“Kalau Aku Mati Besuk Kamu Melayat Ya..!!”

imageHari ke 25 (selawe – dua puluh lima) tantangan #NulisRandom2015 dari komunitas #NulisBukuComunity #Barokallah

ZowLow 23/06/2015 Edisi cerita, hari itu minggu menjelang bulan puasa tidak seperti biasanya ada hasrat untuk mudik ke kampung halaman di bilangan Ngaglik Yogyakarta, kebetulan menjelang puasa adat kebiasaan warga adalah “nyadran” yang juga bertepatan dengan 20 Ruwah penanggalan Jawa sehingga ada yang menyebutnya “rong puluhan”

Keberkahan saat nyadran selain mengirim do’a do’a untuk para leluhur yang telah mendahului kita saat itu bisa bertemu dengan saudara saudara yang mungkin jarang sekali bertemu sehingga bertemu di momen acara ini, apalagi saya yang sudah sekian puluh tahun meninggalkan kampung halaman. Banyak sudah pergulatan panjang seakan direview kembali sang waktu mengukir sejarah masa kecil hingga dewasa seperti terasa baru kemarin meninggalkan desaku.

Adalah mbah Bikas begitu saya biasa mengebutnya, usianya hampir seratusan ketika saya tamat SLTA embah ini sudah purna tugas sebagai PNS di Perusahaan Air Minum Daerah yang sekarang menjadi BUMD Tirta Marta. Bicaranya masih lantang pendengarannyapun masih jelas ketika diajak bicara, namun secara fisik saja yang meninggalkan garis garis perjuangan disetiap lekuk kaki dan tangannya.

Bukan soal mbah ini pegawai negeri ataukah buruh pabrik yang menjadi sebuah pemikiran bagiku akan tetapi begitu bertemu setelah sekian tahun tidak bertemu masih sekuat itu semangat yang dimiliki, saat itu mbah sengaja datang ke tempat orang tuaku hanya sekedar minta sayuran bayam yang kebetulan tumbuh di halaman rumah.

Sedikit tetuah dari sesepuh bahwa “urip kwi mung sak dremo nglakoni titah sing gawe urip” pesan pendek yang disampaikan mungkin sederhana saja namun dengan bercerita banyak tentang garis garis perjuangannya mengisyaratkan sebuah endapan dari makna yang sangat luas, mungkin hal yang sama bisa disampaikan siapa saja namun akan bermakna lain ketika disampaikan oleh orang seusia dia.

Keiklasan dari sebuah perjuangan “menep” menjadikannya kepasrahan kepada “titahing” gustiAllah sebagai dzat yang maha Agung dan Kuasa atas segala sesuatu yang diperjuangkannya untuk anak cucu dan saudara saudaranya menjadikan tauladan kepada generasi penerusnya, inilah sejarah yang sering kali saya sebut memberikan suri tauladan paling tidak untuk sanak keluarganya.

Diakhir pembicaraan mbah yang mengagetkanku satu kata yang tidak aku sangka “Suk nek aku mati layat yo le” waduh menyentak dijantung rasanya “durung durung wis ngomong mati” “sok ben wong tuwomu sing woro woro” aku hanya diam mengamini apa yang mereka katakan, satu sejarah kehidupan manusia diusia senja bersemangat walau guratan guratan jelas disetiap lekuk tangan dan kakinya.

Barokallah mBah panjang umur keberkahan disisa umurnya, nyuwun donga pangestune putune neng paran ben berkah mbi anak bojo.

salam DPS neng samubarang paran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s