Seorang Guru Sufi Tentang Dua Keadaan Manusia


​Seorang Guru Sufi ditanya tentang 2 Keadaan Manusia :

1. Manusia yg Rajin Sekali ibadahnya, namun Sombong, Angkuh dan Selalu Merasa Suci..??

2. Manusia yang tak Pernah Ibadah, Namun Akhlaknya Begitu Mulia, Rendah Hati, Santun, Lembut dan Cinta dengan Sesama..??

Lalu Sang Guru Sufi  Menjawab :

Keduanya Baik..!!

Boleh Jadi Suatu Saat Si Ahli ibadah yang Sombong Menemukan Kesadaran tentang Akhlaknya yang Buruk dan Dia Bertaubat lalu ia akan Menjadi Pribadi yg Baik Lahir dan Batinnya.

Dan yg Kedua bisa Jadi Sebab Kebaikan Hatinya, ALLAH akan Menurunkan Hidayah lalu ia Menjadi Ahli ibadah yg Juga Memiliki Kebaikan Lahir & Batin.

Kemudian Orang Tersebut Bertanya lagi, lalu siapa yg Tidak Baik Kalau Begitu…???

Sang Guru Sufi Menjawab :

“Yang tidak Baik adalah Kita, Orang ketiga yang Selalu Mampu Menilai Orang lain, namun Lalai dari Menilai Diri Sendiri”

Semoga  kita Semua Senantiasa dalam LindunganNya

Selamat Beraktifitas, Shobakul Kheir.

Sebutir Tetes Air Mata

 

Lautan ILMU tak akan Menjadi Memadamkan Walau Secuil dari Bara Api NERAKA…!!
Namun,  Sebutir Tetes Air mata seseorang yang Jatuh Karena Khusu’ (Takut)  kepada ALLAH Mampu Menghalangi Luapan Api NERAKA..!!

Lautan DUNIA (Harta dll) Tidak Akan Mampu Memadamkan Walau secuil dari Bara Api NERAKA…!!

Namun,  Sebutir Tetes air mata seseorang yang Jatuh karna Khusu’ (Takut)  kepada ALLAH Mampu Menghalangi Luapan Api NERAKA

Semoga Kita Tergolong yg Khusu’ dalam Beribadah & Selalu Takut Akan Siksa Api Neraka.. Aamiin

Shobakul Kheir

Mutiara Nasehat : Aib

Dari semua alasan kita menarik seseorang ke dalam hidup kita, janganlah salah satunya, untuk mengkhazanahi aib aibnya…

Karena tiap orang beriman tetaplah rembulan, yang kala putar dan kala edarnya terjadwal bumi sama serupa.

Maka ia memiliki disisa kelam, yang tak pernah ingin ditampakkanya pada siapapun…

Sehingga cukuplah bagi kita memandang sang rembulan, pada sisi cantik yang menghadap ke mayapada…

Tentu tanpa kehilangan semangat untuk selalu berbagi dan sesekali merasai gelapnya sesal dan hangatnya nasehat… sebagaimana sang rembulan yang kadang harus menggerhanai matahari.

INI Nominal UMK 2017 di 35 Kabupaten/Kota yang Telah Ditetapkan Gubernur Jateng

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, telah menandatangani penetapan nominal Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) 2017, pada Senin (21/11/2016) sore, di ruang kerja Gubernur.

Melalui Surat Keputusan bernomor 560/50/2016 tersebut, nominal UMK 2017ditetapkan tertinggi adalah Kota Semarang yang mencapai Rp 2.125.000, sedangkan terendah adalah Kabupaten Banjarnegara yakni Rp 1.370.000.

“Kenaikan tertinggi mencapai 18 persen yaitu di Kabupaten Jepara. Untuk lainnya, rata-rata di atas ketentuan nasional yaitu lebih dari 8,25 persen,” katanya usai menandatangani SK.

Adapun nominal UMK 2017 yang ditetapkan Gubernur tersebut, per Kabupaten dan Kota se Jateng antaralain :

1. Kota Semarang : Rp 2.125.000

2. Kabupaten Demak : Rp 1.900.000

3. Kabupaten Kendal : Rp 1.774.867

4. Kabupaten Semarang : Rp 1.745.000

5. Kota Salatiga : Rp 1.596.844,87

6. Kabupaten Grobogan : 1.435.000

7. Kabupaten Blora : Rp 1.438.100

8. Kabupaten Kudus : 1.740.900

9. Kabupaten Jepara : Rp 1.600.000

10. Kabupaten Pati : 1.420.500

11. Kabupaten Rembang : Rp 1.408.000

12. Kabupaten Boyolali : Rp 1.519.289

13. Kota Surakarta : Rp 1.534.985

14. Kabupaten Sukoharjo : Rp 1.513.000

15. Kabupaten Sragen : Rp 1.422.585,52

16. Kabupaten Karanganyar ; Rp 1.560.000

17. Kabupaten Wonogiri : Rp 1.401.000

18. Kabupaten Klaten : Rp 1.528.500

19. Kota Magelang : Rp 1.453.000

20. Kabupaten Magelang : Rp 1.570.000

21. Kabupaten Purworejo : Rp 1.445.000

22. Kabupaten Temanggung : Rp 1.431.500

23. Kabupaten Wonosobo : Rp 1.457.100

24. Kabupaten Kebumen : Rp 1.433.900

25. Kabupaten Banyumas : Rp 1.461.400

30. Kota Pekalongan : Rp 1.623.750

31. Kabupaten Pekalongan : Rp 1.583.697,50

32. Kabupaten Pemalang : Rp 1.460.000

33. Kota Tegal : Rp 1.499.500

34. Kabupaten Tegal : Rp 1.487.000

35. Kabupaten Brebes : Rp 1.418.100

(*)

26. Kabupaten Cilacap : Rp 1.693.689

27. Kabupaten Banjarnegara : Rp 1.370.000

28. Kabupaten Purbalingga : Rp 1.522.500

29. Kabupaten Batang : Rp 1.603.000

30. Kota Pekalongan : Rp 1.623.750

31. Kabupaten Pekalongan : Rp 1.583.697,50

32. Kabupaten Pemalang : Rp 1.460.000

33. Kota Tegal : Rp 1.499.500

34. Kabupaten Tegal : Rp 1.487.000

35. Kabupaten Brebes : Rp 1.418.100

sumber : tribun.com

Upah Buruh di 34 Provinsi Naik Mulai 1 Januari 2017, Ini Daftarnya

 

Jakarta – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) menetapkan kenaikan UMP tahun depan sebesar 8,25%, yang didapatkan dengan asumsi inflasi 3,07% dan pertumbuhan ekonomi tahun 2017 sebesar 5,18%. 


Penetapan ini dituangkan pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan. Adapun formulasi perhitungan kenaikan UMP, yaitu besaran UMP tahun berjalan dikalikan dengan inflasi nasional ditambah dengan pertumbuhan ekonomi nasional.

Masing-masing Provinsi telah mengumumkan kenaikan UMP untuk 2017 mendatang. Hal ini mengingat UMP tersebut akan berlaku per tanggal 1 Januari 2017 mendatang. Berikut besaran kenaikan UMP 2017 dari 34 provinsi yang ada di Indonesia, seperti dirangkum detikFinance, Senin (14/11/2016).

1. Aceh, mengalami kenaikan UMP dari Rp 2.118.500 di 2016, menjadi Rp 2.500.000 di 2017.

2. Sumatera Utara, mengalami kenaikan UMP dari Rp 1.811.875 di 2016, menjadi Rp 1.961.354 di 2017.

3. Sumatera Barat, mengalami kenaikan UMP dari Rp 1.800.725 di 2016, menjadi Rp 1.949.284 di 2017.

4. Riau, mengalami kenaikan UMP dari Rp 2.095.000 di 2016, menjadi Rp 2.266.722 di 2017.

5. Jambi, mengalami kenaikan UMP dari Rp 1.906.650 di 2016, menjadi Rp 2.063.000 di 2017.

6. Bangka Belitung, mengalami kenaikan UMP dari Rp 2.341.500 di 2016, menjadi Rp 2.534.673 di 2017.

7. Kepulauan Riau, mengalami kenaikan UMP dari Rp 2.178.710 di 2016, menjadi Rp 2.358.454 di 2017.

8. Bengkulu, mengalami kenaikan UMP dari Rp 1.605.000 di 2016, menjadi Rp 1.730.000 di 2017.

9. Sumatera Selatan, mengalami kenaikan UMP dari Rp 2.206.000 di 2016, menjadi Rp 2.388.000 di 2017.

10. Lampung, mengalami kenaikan UMP dari Rp 1.763.000 di 2016, menjadi Rp 1.908.447 di 2017.

11. Banten, mengalami kenaikan UMP dari Rp 1.784.000 di 2016, menjadi Rp 1.931.180 di 2017.

12. DKI Jakarta, mengalami kenaikan UMP dari Rp 3.100.000 di 2016, menjadi Rp 3.355.750 di 2017.

13. Jawa Barat, mengalami kenaikan UMP dari Rp 1.312.355 di 2016, menjadi Rp 1.420.624 di 2017.

14. Jawa Tengah, mengalami kenaikan UMP dari Rp 1.265.000 di 2016, menjadi Rp 1.367.000 di 2017.

15. Yogyakarta, mengalami kenaikan UMP dari Rp 1.237.700 di 2016, menjadi Rp 1.337.645 di 2017.

16. Jawa Timur, mengalami kenaikan UMP dari Rp 1.273.490 di 2016, menjadi Rp 1.388.000 di 2017.

17. Bali, mengalami kenaikan UMP dari Rp 1.807.600 di 2016, menjadi Rp 1.956.727 di 2017.

18. Nusa Tenggara Barat (NTB), mengalami kenaikan UMP dari Rp 1.482.950 di 2016, menjadi Rp 1.631.245 di 2017.

19. Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami kenaikan UMP dari Rp 1.425.000 di 2016, menjadi Rp 1.650.000 di 2017.

20. Kalimantan Barat, mengalami kenaikan UMP dari Rp 1.739.400 di 2016, menjadi Rp 1.882.900 di 2017.

21. Kalimantan Selatan, mengalami kenaikan UMP dari Rp 2.085.050 di 2016, menjadi Rp 2.258.000 di 2017.

22. Kalimantan Tengah, mengalami kenaikan UMP dari Rp 2.057.528 di 2016, menjadi Rp 2.222.986 di 2017.

23. Kalimantan Timur, mengalami kenaikan UMP dari Rp 2.161.253 di 2016, menjadi Rp 2.339.556 di 2017.

24. Kalimantan Utara, mengalami kenaikan UMP dari Rp 2.175.340 di 2016, menjadi Rp 2.358.800 di 2017.

25. Gorontalo, mengalami kenaikan UMP dari Rp 1.875.000 di 2016, menjadi Rp 2.030.000 di 2017.

26. Sulawesi Utara, mengalami kenaikan UMP dari Rp 2.400.000 di 2016, menjadi Rp 2.598.000 di 2017.

27. Sulawesi Tengah, mengalami kenaikan UMP dari Rp 1.670.000 di 2016, menjadi Rp 1.807.775 di 2017.

28. Sulawesi Tenggara, mengalami kenaikan UMP dari Rp 1.850.000 di 2016, menjadi Rp 2.002.625 di 2017.

29. Sulawesi Selatan, mengalami kenaikan UMP dari Rp 2.250.000 di 2016, menjadi Rp 2.500.000 di 2017.

30. Sulawesi Barat, mengalami kenaikan UMP dari Rp 1.864.000 di 2016, menjadi Rp 2.017.780 di 2017.

31. Maluku, mengalami kenaikan UMP dari Rp 1.775.000 di 2016, menjadi Rp 1.925.000 di 2017.

32. Maluku Utara, mengalami kenaikan UMP dari Rp 1.681.266 di 2016, menjadi Rp 1.975.000 di 2017.

33. Papua, mengalami kenaikan UMP dari Rp 2.435.000 di 2016, menjadi Rp 2.663.646 di 2017.

34. Papua Barat, mengalami kenaikan UMP dari Rp 2.237.000 di 2016, menjadi Rp 2.416.855 di 2017.

(dna/wdl) sumber : detik.com

Pembahasan UMK Karanganyar Deadlock

Solopos.com, KARANGANYAR — Rapat Dewan Pengupahan Karanganyar membahas usulan upah minimum kabupaten (UMK) 2017, Senin (17/10/2016), berlangsung alot.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, rapat berlangsung pukul 10.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB. Serikat pekerja dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Karanganyar berkukuh dengan usulan masing-masing.

Akhirnya rapat memutuskan mengajukan dua usulan nominal UMK, masing-masing dari Serikat Pekerja dan Apindo, ke Bupati Karanganyar. Bupati yang akan memutuskan angka mana yang diusulkan ke Gubernur Jateng.

“Belum ada kesepakatan. Masing-masing punya pendapat sendiri. Akhirnya dua usulan yang ada kami sepakati untuk diajukan kepada Pak Bupati,” ujar Ketua Harian Dewan Pengupahan Karanganyar, Agus Heri Bindarto, diwawancarai wartawan seusai rapat.

Agus menjelaskan selanjutnya tergantung Bupati mau memilih salah satu, mau dikurangi atau ditambah. “Rapat dari pagi sampai sore, tidak ada kesepakatan,” sambung dia.

Agus mengatakan rapat berlangsung konstruktif kendati masing-masing pihak tidak mau mengalah. Penuturan senada disampaikan Ketua Forum Komunikasi Serikat Buruh Karanganyar (FKSPK) Karanganyar, Eko Supriyanto, saat dihubungi Solopos.com via ponsel.

Menurut dia, angka yang diusulkan FKSPK senilai Rp1.555.326 per bulan. Sedangkan usulan dari Apindo yakni Rp1.534.168 per bulan.

“Rapat berlangsung alot, masing-masing pihak berkukuh dengan usulannya. Rapat sampai diskors beberapa menit, lalu dilanjutkan kembali,” tutur dia.

Eko menjelaskan perbedaan usulan UMK antara serikat pekerja dengan Apindo lantaran perbedaan metode penghitungan. Serikat pekerja memberikan penambahan 1,49 persen dalam penahapan penghitungan UMK, sedangkan Apindo tanpa penambahan.

Penambahan 1,49 persen berasal dari selisih antara UMK 2016 sebesar Rp1.420.000 dengan angka KHL. Di sisi lain, akhirnya serikat pekerja bersedia menggunakan UMK 2016 sebagai dasar penghitungan. “Kami berharap usulan kami diakomodasi,” imbuh Eko

sumber : solopos.com

Pekerja Karanganyar Tuntut UMK Sebesar 1,578 Juta

KARANGANYAR, Lintas Solo-Para pekerja di Karanganyar mengusulkan upah minimum kabupaten (UMK) 2017 sebesar Rp1.578.838, atau naik Rp158.838, jika dibandingkan UMK 2016 sebesar Rp1.420.000.

Ketua Forum Komunikasi Serikat Buruh Karanganyar (FKSBK) Eko Supriyanto, Minggu (16/10/2016), mengatakan, usulan UMK tersebut berdasarkan perhitungan menggunakan angka kebutuhan hidup layak (KHL) 2015 sebesar Rp1.441.472, angka inflasi 3,07 persen, dan pertumbuhan ekonomi nasional 4,97 persen.

Hasilnya lalu ditambahkan dengan selisih KHL 2015 dengan UMK 2016.

“Ada selisih antara KHL 2015 dengan UMK 2016 sebesar Rp21.472. Hasil akhir yang kami temukan sebesar, Rp1.578.838. Kami juga menolak dasar perhitungan menggunakan UMK berjalan 2016,” tegasnya.

FKSBK juga menuntut agar tidak ada perbedaan antara upah pekerja lajang dengan yang sudah berkeluarga.

Untuk pekerja yang sudah berkeluarga FKSBK mengusulkan upah Rp1.657.780.

Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Hubungan Industrial dan Pengawasan Tenaga Kerja Dinsosnakertrans Karanganyar, Sri Wibowo, ketika dikonfirmasi mengatakan, sah-sah saja pekerja mengusulkan angka UMK 2017.

Yang, jelas, kata Sri Bowo, merujuk PP Nomor 78/2015 sudah ada rumus baku penghitungan UMK.

Disisi lain, Ketua Komisi D DPRD Karanganyar, Endang Muryani, berharap rapat Dewan Pengupahan berhasil menyepakati usulan UMK 2017. Apalagi kabupaten/kota di Soloraya sudah mencapai kesepakatan.

“Saya juga minta kepentingan pekerja diakomodasi,” ujarnya.|Iwan Iswanda

Editor: Joko Larsono

sumber : Lintassolo.com